Rabu, 12 Februari 2014

ADIL

Sering kita marah, sedih, protes, cuek, tidak mau tau, benci, dendam, menangis, demo, bercerai tak mau dimadu, bahkan sampai-sampai bunuh diri dan lain sebagainya yang kacau atau yang rusak-rusak sehingga kehidupannya tidak harmonis lagi, susah tidur, kepala pening, jatuh sakit, setres, gila. Semua itu hanya dikarenakan oleh kata adil dan sudah tentu pasti berpasangan dengan kata bijaksana. Untuk memahami kata-kata adil dan bijaksana gampang saja. Adil bisa diartikan sama, maksudnya segala kegiatan atau perbuatan membagi sesuatu harus sama dan sesuai dengan peraturan yang dibuat bersama. Untuk menyelamatkan keadilan karena jalan prosesnya yang selalu berubah sehingga kesepakatan tersebut harus diganti dengan kesepakat baru maka muncullah kata kebijaksanaan. Sehingga dua kata adil dan bijaksana bisa dijadikan ajang pertempuran baik mental maupun fisik saling menjatuhkan dengan sesama kawan maupun lawan. Kalau kedua kata adil dan bijaksana itu masih tidak harmonis tentu masih ada beberapa bumbu lagi yang ditinggalkan. Apakah itu? ya tentunya harus ikhlas, ampun, dan kasih sayang. Yah... andaikan politisi dan rakyat seperti itu! sungguh tentramnya hidup ini. Ya,....Ya,.....
Jadi menejer harus mempunyai manajemen yang dibarengi analisis yang sangat teliti dan dilaksanakan bersamam-sama obyek dengan rasa kasih dan sayang. Insya Alloh semuanya bakal selesai. Begitulah pelajaran di agama Islam. Buka, baca, dan pahami Al-Quran dan Hadis. Kalau tidak percaya, ini merupakan bencana bagi kita semua di dunia. Ingat demit, tugasnya selalu membodohi manusia. Oleh sebab itu kamu harus bisa membodohi demit-demit itu dengan setrategi yang jitu pula. Itu ada pada diri Rosululloh (Muhammad SAW) sukses menepis pengaruh demit dengan mengulang perbuatan yang baik, sabar, dan ihtiar. Mangkanya Muhammad SAW sukses memimpin dunia dengan damai sampai akhir zaman. Ikhtiar adalah berjuang dan berdoa mohon ampun tidak mengulangi perbuatan jahat lagi.
 Diakhirat semua yang ada disekitar kejadian akan jadi saksi sehingga tidak bisa berdusta lagi. Bisa adilkah kita kepada sesama melebihi Tuhan. Kalau tak mampu bersegeralah mohon ampun dan tidak mengulangi lagi. Kalau memang salah bilanglah salah, kalau memang benar bilanglah benar supaya tidak salah dalam membuat keputusan. Kalau masalahnya rakyat bodoh, maka tugas kita semua. Dan pemimpin hendaknya memberi fasilitas dengan manajemen dan analisis yang teliti dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar